Topi, kalung mutiara, rambut bob hingga gaun malam dengan manik-manik yang menyala menjadi hal yang wajib dimiliki perempuan era 20-an. Tanpa itu, mungkin mereka dianggap ‘ketinggalan zaman’. Namun segala ornamen itu memiliki pesona tersendiri yang pantas untuk kita kenang.

Pernahkah Anda melihat pakaian era Perang Dunia I? Kira-kira begitulah gambaran secara umum gaya baju oma-oma saat muda. Mereka gemar menggunakan jaket dan topi berbulu tebal di kepala, dipadukan dengan kalung emas/ perak yang meriah. Mereka wajib mengenakan sepatu hak, stocking dan sarung tangan.

Rambut dibiarkan bergelombang dan dipotong bob, sehingga wajah tampak imut dan juga cantik. Bando dan topi menjadi hal yang wajib mereka miliki di lemari untuk mempercantik area kepala.

Outfit Ibu-Ibu era 20-an
Ibu-ibu zaman itu juga seirng merasa jenuh, terutama ketika suaminya pergi bekerja dan pekerjaan rumah sudah selesai. Tidak sedikit Ibu rumah tangga melanjutkan aktivitas mereka dan kemudian bepergian bersama teman-teman.

Pakaian yang mereka kenakan biasanya menggunakan rok, blus, atau sweater – tergantung cuaca saat itu. Pakaiannya terlihat sederhana, tapi di era itu produsen baju biasanya memproduksi baju dengan kualitas tinggi. Seperti campuran sutra crepe atau wol, yang dijahit menyilang di pinggang dan dibalut dengan sabuk tipis.

Sementara di musim semi atau musim panas, gaun pintucks adalah baju yang paling umum digunakan kaum hawa. Biasanya mereka memadu padankan dengan sepatu T-Strap berwarna cokelat.

Outfit perempuan saat bekerja
Perempuan era 20-an sudah mulai bekerja di perkantoran seperti menjadi sekretaris, jurnalis, guru, dan operator telepon. Mereka memiliki setelan sendiri untuk berangkat ke kantor.

Biasanya mereka mengenakan dress yang dipadukan dengan jas polos dan topi tanpa aksesoris berlebihan. Perempuan yang berangkat ke kantor biasanya menekankan kerapihan dan ketepatan memilih warna pakaian, daripada menematkan aksesoris.

Sepatu yang mereka kenakan ke kantor beraneka macam jenis. Semua tergantung mobilitas pekerjaan mereka. Perempuan di Inggris pada saat itu termasuk kuat berjalan dari rumah ke kantor mengenakan heels. Namun tidak sedikit juga yang mengenakan sepatu Mary Jane, terutama yang berprofesi sebagai jurnalis.

Sepatu
Saat siang hari kebanyakan perempuan kala itu mengunakan sepatu oxford lace-up low hee berwarna coklat, putih atau hitam. Sementara jika ingin tampil sedikit lebih anggun mereka memilih mengenakan sepatu hak klasik bertali. Sepatu T-Strap juga sangat populer saat digunakan di lantai dansa.

Jika ingin tampil sporty, biasanya mereka mengenakan sepasang sepatu oxford yang nyaris rata. Atau jika ingin berolahraga sepatu putih Keds klask paling sering digunakan saat bermain golf atau tennis.

Topi
Kalau zaman sekarang kita jarang melihat perempuan bertopi, beda cerita ketika kita mengunjungi Inggris di tahun 20-an. Mereka bahkan punya topi berdasarkan musim. Misalnya saja saat musim panas mereka mengenakan topi anyaman, kemudian saat musim dingin mereka mengenakan topi berbahan tebal atau sulaman.

Topi model tricorn mulai menjadi tren ketika film The Three Musketeers populer. Mereka memadukannya dengan bunga kain di sekitar topi agar terlihat lebih cantik. Untuk perempuan muda kala itu, mereka lebih senang mengenakan topi baret, karena dinilai lebih fleksibel di siang hari.

Demikianlah pemaparan kami tentang pakaian wanita Inggris di era 20-an. Tampil cantik, bukan? Namun pakaian yang populer di zaman itu pula yang akhirnya menjadi referensi fashion era sekarang.

Tinggalkan pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here